WARA'
1.
Latar belakang
Sesungguhnya menjaga diri (wara) dari keharaman dan shubhat, serta memakan dan bekerja mencari nafkah yang halal adalah
termasuk anjuran agama yang sangat penting. Itulah hal yang paling utama untuk
menuju dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun menjaga diri (wara) bukan cuma
hal yang berkaitan tentang halal dan haram saja tetapi menjaga diri dari sifat
berlebihan misalnya menghindari rasa kenyang, banyak tidur, dan banyak bicara
yang tidak berguna.
Di zaman modern saat ini, sikap menjaga
diri dari hal seperti makanan itu sangat sulit. Apalagi sekarang, berbagai aneka
makanan siap saji (Instant) yang menarik dan menggiurkan sudah beredar bebas. Padahal
kita tidak tahu begitu jelas perihal kepastian haram atau halalnya makan
tersebut. Kita sebagai konsumen terkadang terlena dengan makanan itu hingga
lupa diri dan mengonsumsinya secara berlebihan. Nah, disinilah peran wara.
2. Urgensi
2. Urgensi
Sikap wara memang sangat di butuhkan di dalam
kehidupan modern ini dan harus menjadi sebuah kebiasaan. Jika tidak, ini akan
menimbulkan dampak negatif. Misalnya saja kita mengkonsumsi makanan instant
secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama, maka itu akan menimbulkan
beberapa gejala bertahap seperti: malas, banyak tidur, gangguan pencernaan,
tumor, dan pada akhirnya akan menimbulkan kanker yang berujung kematian dalam
usia dini.
3.
Hipotesa
1. (QS Al-Baqarah 2 :
172) 4. (QS Al-Mu’minun 23
: 51)
2. (QS Al-Baqarah 2 : 168) 5. (QS Al Muddassir 74 : 4)
3. (QS Al-Maidah 5 : 88)
4.
Ayat
al-Qur’an dan terjemahan
(51). يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ
وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖإِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu’minun [23]: 51)
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu’minun [23]: 51)
5.
Tafsir ayat :
1.
Kitab tafsir (Al-Misbah)
Di atas, ajakan tersebut dimulai
dengan perintah makan untuk menyindir mereka yang selama ini menduga bahwa
manusia tidak pantas menjadi rasul, antara lain karena dia makan dan minum
serta masuk pasar (baca QS. Al-Furqan [25]: 7)
Penggalan pertama perintah ayat diatas juga
merupakan ajakan kepada umat mereka karena tentu saja para rasul tersebut
memahami, menghayati, dan melaksanakan tuntutan diatas.
Gabungan dari perintah makan dan beramal
saleh pada ayat ini merupakan isyarat tentang kesucian lahir dan batin para
rasul. Makan dari yang baik isyarat tentang kesucian jasmani mereka. Di sisi
lain, perintah beramal saleh setelah perintah makan mengisyaratkan bahwa himmah dan semangat para rasul
tercurahkan kepada amal-amal saleh. Demikian Ibn ‘Asyur. Maksudnya, daya yang
mereka peroleh dari makanan mereka gunakan untuk melaksanakan amal-amal saleh.
Kata kulu/
makanlah bukan maksudnya sekedar memasukkan sesuatu ke mulut, selanjutnya
mengunyah dan memasukkannya ke dalam kerongkongan. Tetapi al-Qur’an sering kali
menggunakan kata tersebut dalam arti yang sangat luas sehingga mencakup segala
aktivitas. Hal tersebut boleh jadi karena aktivitas manusia terlaksana setelah
memiliki daya fisik dan ini memerlukan makanan. Di sisi lain, makanan merupakan
salah satu kebutuhan manusia. untuk ayat ini, disamping makna tersebut, agaknya
juga seperti sindiran terhadap kaum musyrikin yang menolak kerasulan manusia
karena makan dan minum
2.
Hubungan dengan hadits yang semakna
Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya
yang di utus sebagai Rasul, untuk memakan makanan yang halal dan mengerjakan
amal shalih. Dan hal itu menunjukkan bahwa makanan yang halal itu bisa membantu
untuk mengerjakan amal shalih, kemudian para Nabipun melaksanakan perintah
tersebut dengan sebaik-baiknya dan menggabungkan setiap kebaikan; baik berupa
ucapan, perbuatan, petunjuk, maupun nasihat.
Dalam
hadits shahih disebutkan:
“Tidak ada
seorang Nabi pun melainkan mengembalakan kambing.” Para sahabat bertanya:
“termasuk juga engkau, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “ Ya, dan aku juga
mengembalakan kambing dengan upah beberapa kirat (4/6 dinar) milik penduduk
mekkah.”
Dalam shahih muslim dan Jaami’ al-Tirmidzi
serta Musnad Imam Ahmad, dan Lafazh ini miliknya (Ahmad), dari Abu Hurairah ra
dia bercerita, Rasulullah Saw telah bersabda:
“Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang
baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin apa yang
diperintahkan juga kepada Para Rasul, di mana Dia berfirman: ‘Hai Para Rasul,
makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah, (QS. Al-Mu’minun). Dan
Dia juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang
baik-baik yang kami berikan kepadamu’ (QS. Al-Baqarah:172). Kemudian beliau
menceritakan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut kusut penuh
debu, makanannya haram, minumannya haram, dia menengadahkan tangannya ke langit
(seraya berkata): Ya Rabb-ku, Ya Rabb-ku. Bagaimana mungkin doa’anya
dikabulkan?”
3.
Pendapat ulama sufi
Yahya
bin Mu’adz berkata, “Wara’ terbagi menjadi dua, pertama wara’ lahir yakni semua
gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, wara’ bathin, yakni
hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah. Barang siapa
yang belum merasakan lezatnya wara’ dia belum pernah menikmati pemberian Allah
SWT. Mereka yang pandangan keagamaannya bagus, kelak ditinggikan derajatnya
oleh Allah di hari kiamat”.
Menurut Imam
Al-Ghazali wara’ adalah menahan diri dari larangan Allah SWT. Ada tiga macam
wara’. Pertama wara’ shidiqqin yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak ada dalil
atau bukti kehalalannya. Kedua wara’ Muttaqiin yaitu meninggalkan sesuatu yang
tidak mengandung syubhat tetapi dikhawatirkan membawa kepada yang haram. Dan
yang ketiga adalah wara’ shalihin yaitu meninggalkan hal-hal yang boleh jadi
halal atau haram, tetapi belum tentu menyehatkan atau baik untuk badan (thayib).
6. Temuan sufistik
Al Habib Abdullah bin Alawiy Al
Haddad RA dalam untaian nasehatnya menyatakan:
“Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian bahwa makanan
halal akan menyinari hati dan melembutkannya dan menyebabkan adanya rasa takut
kepada Allah dan _khusyu’ kepadaNya, memberikan semangat dan motivasi pada
anggota tubuh untuk taat dan beribadah serta menumbuhkan sikap zuhud terhadap
dunia dan kecintaan pada akhirat. Dan inilah sebab diterimanya amal amal sholeh
kita dan dikabulkannya doa-doa kita.”
“Adapun makanan haram
dan syubhat maka kebalikan dari yang sudah disebutkan tadi, dia akan menyebabkan
kekerasan hati dan menggelapkannya, mengikat (mengekang) tubuh dari ketaatan
dan menjadikannya rakus terhadap dunia. Inilah sebab ditolaknya amal-amal
ibadah dan doanya.”
KESIMPULAN
1.
Wara’
adalah meningalkan semua syubhat, meninggalkan semua yang tidak bermanfaat bagi
Anda dan meninggalkan apa saja yang lebih (dari mencukupi).
2.
Wara’
adalah menjauhi syubhat karena khawatir terjatuh di dalam yang haram.
3.
Wara’
adalah meninggalkan apa saja yang ditakutkan bahayanya di akhirat.
REFERENSI :
REFERENSI :
1. Shihab,
M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah: pesan,
kesan dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: lentera hati, 2002. 15 vol; 16x24
cm
2. Tafsir Ibnu katsir/penerjemah,
M. Abdul Ghoffar E.M., Abdurrahim Mu’thi, Abu Ihsan Al-Atsari; pengedit, M.
Yusuf Harun….[et al].-bogor-: Pustaka Imam Asy-syafi’I, 2004. 8 jil; 21.5x30 cm
3. Alwy,
Al-Haddad Al-Habib. Jalan Menuju SURGA.
Jakarta : Lintas pustaka. 2003.
4. Az-Zarnuji,
Syaikh. Terjemah Ta’lim Muta’allim.
Surabaya: Mutiara Ilmu. 2012.
5. Imam
Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub:
al-Muqarrib ila hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi ‘ilm at-Tashawwuf. Bandung:
Pustaka Hidayah. 2006.
6. http://www.tafsir.web.id/2013/01/tafsir-al-Mu’minun-ayat-51.html#sthash.gZ5Ni2dc.dpuf
(diakses tanggal 26 maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar