Sabtu, 06 Desember 2014

Tafsir hadits Sufi


WARA'

      1. Latar belakang
     Sesungguhnya menjaga diri (wara) dari keharaman dan shubhat, serta memakan dan bekerja mencari nafkah yang halal adalah termasuk anjuran agama yang sangat penting. Itulah hal yang paling utama untuk menuju dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun menjaga diri (wara) bukan cuma hal yang berkaitan tentang halal dan haram saja tetapi menjaga diri dari sifat berlebihan misalnya menghindari rasa kenyang, banyak tidur, dan banyak bicara yang tidak berguna.
     Di zaman modern saat ini, sikap menjaga diri dari hal seperti makanan itu sangat sulit. Apalagi sekarang, berbagai aneka makanan siap saji (Instant) yang menarik dan menggiurkan sudah beredar bebas. Padahal kita tidak tahu begitu jelas perihal kepastian haram atau halalnya makan tersebut. Kita sebagai konsumen terkadang terlena dengan makanan itu hingga lupa diri dan mengonsumsinya secara berlebihan. Nah, disinilah peran wara.

2. Urgensi
     Sikap wara memang sangat di butuhkan di dalam kehidupan modern ini dan harus menjadi sebuah kebiasaan. Jika tidak, ini akan menimbulkan dampak negatif. Misalnya saja kita mengkonsumsi makanan instant secara berlebihan dalam jangka waktu yang lama, maka itu akan menimbulkan beberapa gejala bertahap seperti: malas, banyak tidur, gangguan pencernaan, tumor, dan pada akhirnya akan menimbulkan kanker yang berujung kematian dalam usia dini.
3. Hipotesa
     1. (QS Al-Baqarah 2 : 172)                 4. (QS Al-Mu’minun 23 : 51)
     2. (QS Al-Baqarah 2 : 168)                 5. (QS Al Muddassir 74 : 4)
     3. (QS Al-Maidah 5 : 88)

4.      Ayat al-Qur’an dan terjemahan
(51). يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا ۖإِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ
Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mu’minun [23]: 51)


5.      Tafsir ayat :
1.      Kitab tafsir (Al-Misbah)
     Di atas, ajakan tersebut dimulai dengan perintah makan untuk menyindir mereka yang selama ini menduga bahwa manusia tidak pantas menjadi rasul, antara lain karena dia makan dan minum serta masuk pasar (baca QS. Al-Furqan [25]: 7)
     Penggalan pertama perintah ayat diatas juga merupakan ajakan kepada umat mereka karena tentu saja para rasul tersebut memahami, menghayati, dan melaksanakan tuntutan diatas.
     Gabungan dari perintah makan dan beramal saleh pada ayat ini merupakan isyarat tentang kesucian lahir dan batin para rasul. Makan dari yang baik isyarat tentang kesucian jasmani mereka. Di sisi lain, perintah beramal saleh setelah perintah makan mengisyaratkan bahwa himmah dan semangat para rasul tercurahkan kepada amal-amal saleh. Demikian Ibn ‘Asyur. Maksudnya, daya yang mereka peroleh dari makanan mereka gunakan untuk melaksanakan amal-amal saleh.
     Kata kulu/ makanlah bukan maksudnya sekedar memasukkan sesuatu ke mulut, selanjutnya mengunyah dan memasukkannya ke dalam kerongkongan. Tetapi al-Qur’an sering kali menggunakan kata tersebut dalam arti yang sangat luas sehingga mencakup segala aktivitas. Hal tersebut boleh jadi karena aktivitas manusia terlaksana setelah memiliki daya fisik dan ini memerlukan makanan. Di sisi lain, makanan merupakan salah satu kebutuhan manusia. untuk ayat ini, disamping makna tersebut, agaknya juga seperti sindiran terhadap kaum musyrikin yang menolak kerasulan manusia karena makan dan minum
2.      Hubungan dengan hadits yang semakna
     Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya yang di utus sebagai Rasul, untuk memakan makanan yang halal dan mengerjakan amal shalih. Dan hal itu menunjukkan bahwa makanan yang halal itu bisa membantu untuk mengerjakan amal shalih, kemudian para Nabipun melaksanakan perintah tersebut dengan sebaik-baiknya dan menggabungkan setiap kebaikan; baik berupa ucapan, perbuatan, petunjuk, maupun nasihat.
Dalam hadits shahih disebutkan:
“Tidak ada seorang Nabi pun melainkan mengembalakan kambing.” Para sahabat bertanya: “termasuk juga engkau, Ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “ Ya, dan aku juga mengembalakan kambing dengan upah beberapa kirat (4/6 dinar) milik penduduk mekkah.”
     Dalam shahih muslim dan Jaami’ al-Tirmidzi serta Musnad Imam Ahmad, dan Lafazh ini miliknya (Ahmad), dari Abu Hurairah ra dia bercerita, Rasulullah Saw telah bersabda:
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin apa yang diperintahkan juga kepada Para Rasul, di mana Dia berfirman: ‘Hai Para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah, (QS. Al-Mu’minun). Dan Dia juga berfirman: ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rizki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu’ (QS. Al-Baqarah:172). Kemudian beliau menceritakan seseorang yang melakukan perjalanan jauh dengan rambut kusut penuh debu, makanannya haram, minumannya haram, dia menengadahkan tangannya ke langit (seraya berkata): Ya Rabb-ku, Ya Rabb-ku. Bagaimana mungkin doa’anya dikabulkan?”
3.      Pendapat ulama sufi
     Yahya bin Mu’adz berkata, “Wara’ terbagi menjadi dua, pertama wara’ lahir yakni semua gerak aktivitas yang hanya tertuju kepada Allah SWT. Kedua, wara’ bathin, yakni hati yang tidak dimasuki sesuatu kecuali hanya mengingat Allah. Barang siapa yang belum merasakan lezatnya wara’ dia belum pernah menikmati pemberian Allah SWT. Mereka yang pandangan keagamaannya bagus, kelak ditinggikan derajatnya oleh Allah di hari kiamat”.
     Menurut Imam Al-Ghazali wara’ adalah menahan diri dari larangan Allah SWT. Ada tiga macam wara’. Pertama wara’ shidiqqin yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak ada dalil atau bukti kehalalannya. Kedua wara’ Muttaqiin yaitu meninggalkan sesuatu yang tidak mengandung syubhat tetapi dikhawatirkan membawa kepada yang haram. Dan yang ketiga adalah wara’ shalihin yaitu meninggalkan hal-hal yang boleh jadi halal atau haram, tetapi belum tentu menyehatkan  atau baik untuk badan (thayib). 

6. Temuan sufistik
            Al Habib Abdullah bin Alawiy Al Haddad RA dalam untaian nasehatnya menyatakan:
“Ketahuilah semoga Allah merahmati kalian bahwa makanan halal akan menyinari hati dan melembutkannya dan menyebabkan adanya rasa takut kepada Allah dan _khusyu’ kepadaNya, memberikan semangat dan motivasi pada anggota tubuh untuk taat dan beribadah serta menumbuhkan sikap zuhud terhadap dunia dan kecintaan pada akhirat. Dan inilah sebab diterimanya amal amal sholeh kita dan dikabulkannya doa-doa kita.”
 “Adapun makanan haram dan syubhat maka kebalikan dari yang sudah disebutkan tadi, dia akan menyebabkan kekerasan hati dan menggelapkannya, mengikat (mengekang) tubuh dari ketaatan dan menjadikannya rakus terhadap dunia. Inilah sebab ditolaknya amal-amal ibadah dan doanya.”

      
KESIMPULAN

1.      Wara’ adalah meningalkan semua syubhat, meninggalkan semua yang tidak bermanfaat bagi Anda dan meninggalkan apa saja yang lebih (dari mencukupi).
2.      Wara’ adalah menjauhi syubhat karena khawatir terjatuh di dalam yang haram.
3.      Wara’ adalah meninggalkan apa saja yang ditakutkan bahayanya di akhirat.    


REFERENSI :
1.      Shihab, M. Quraish, Tafsir Al-Mishbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Qur’an. Jakarta: lentera hati, 2002. 15 vol; 16x24 cm
2.      Tafsir Ibnu katsir/penerjemah, M. Abdul Ghoffar E.M., Abdurrahim Mu’thi, Abu Ihsan Al-Atsari; pengedit, M. Yusuf Harun….[et al].-bogor-: Pustaka Imam Asy-syafi’I, 2004. 8 jil; 21.5x30 cm
3.      Alwy, Al-Haddad Al-Habib. Jalan Menuju SURGA. Jakarta : Lintas pustaka. 2003.
4.      Az-Zarnuji, Syaikh. Terjemah Ta’lim Muta’allim. Surabaya: Mutiara Ilmu. 2012.
5.      Imam Al-Ghazali, Mukasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi ‘ilm at-Tashawwuf. Bandung: Pustaka Hidayah. 2006.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar