TEORI-TEORI
PSIKOLOGI PERKEMBANGAN
(TEORI PSIKOANALISIS DAN KOGNITIF)
A. LATAR BELAKANG
Kumpulan fakta yang diikat oleh suatu hukum tertentu akan menjadi pandangan
yang berlaku umum kemudian disebut sebagai teori. Suatu teori harus memenuhi
syarat-syarat formal (Miller,1989) yaitu:
1. Teori harus masuk akal (logis); didalamnya konsisten artinya tidak ada
pernyataan-pernyataan yang saliong bertentangan.
2. Teori secara empiris harus masuk akal; artinya tidak ada pengamatan ilmiah
yang saling berlawanan.
3. Teori harus diuji dan bersifat hemat; artinya sedapat mungkin terdiri
dari beberapa konstruk, proposisi.
4. Teori harus mempunyai cakupan ilmu yang cukup luas dan mampu
mengintegrasikan peneliti terdahulu.
Sebuah
teori merupakan kumpulan ide yang logis dan saling berhubungan yang membantu
memberi penjelasan dan membuat prediksi.
Sebagai
salah satu bidang dari psikologi dan sebagai ilmu, psikologi perkembangan
memiliki teori-teori yang ada sampai sekarang dan dapat digunakan sebagai
kerangka acuan untuk memahami perubahan tingkah laku manusia sesuai dengan
perubahan waktu atau zaman.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa yang dimaksud dengan teori dan perkembangan?
2. Bagaimana teori psikoanalitis dalam psikologi
perkembangan?
3. Bagaimana teori kognitif dalam psikologi
perkembangan?
C. TUJUAN
Dari rumusan masalah diatas dapat
dirumuskan beberapa tujuan pembahasan. Adapun tujuannya yakni sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian perkembangan dalam psikologi
2. Mengetahui teori psikoanalisis dalam psikologi perkembangan
3. Mengetahui teori kognitif dalam psikologi perkembangan
4. sebagai bahan kajian diskusi
A. PENGERTIAN
TEORI DAN PERKEMBANGAN
Teori
dapat diartikan sebagai model tentang kenyataan yang membantu kita untuk
memahami, menjelaskan, memprediksi, dan mengontrol tentang kenyataan tersebut.
Teori
juga dapat diartikan sebagai (a) sekumpulan atau aeperangkat asumsi (dugaan,
perkiraan, atau anggapan) yang relevan, dan secara sistematis saling berkaitan;
(b) hipotesis atau spekulasi tentang kenyataan, dan (c) sekumpulan asumsi
tentang keterkaitan antara peristiwa-peristiwa empiris (fenomena).
Dalam ilmu pengetahuan (science), teori memegang peranan yang sangat penting, karena
merupakan dasar atau landasan dari ilmu pengetahuan tersebut. Teori merupakan
spekulasi, yaitu sesuatu yang belum terbukti kebenarannya. Teori yang sudah
terbukti kebenarannya dinamakan fakta (hasil observasi atau verifikasi tentang
dunia empiris).
Teori berfungsi sebagai berikut: (a)
mengarahkan perhatian, atau arah penelitian, dalam arti membantu penentuan
fakta-fakta mana yang relevan bagi satu penelitian, (b) merangkum pengetahuan
dalam bentuk generalisasi, atau prinsip-prinsi, sehingga dapat memfasilitasi (mempermudah)
pemahaman tentang fenomena yang kompleks, dan (c) memprediksi atau meramalakan
fakta, peristiwa yang akan datang dengan mempelajari kondisi atau fenomena yang
berkaitan. Sementara fakta berfungsi untuk (a) menolak teori yang ada, (b)
melahirkan teori baru, dan (c) mempertajam atau memperhalus rumusan teori yang
telah ada.
Stefflre dan Matheny mengemukakan bahwa teori
itu mempunyai ciri-ciri: (a) jalas, dapat dipahami, (b) komprehensif, dapat
menjelaskan banyak fenomena yang berkaitan, (c) eksplisit, faktanya dapat
diuji/dites, (d) persimoni, dapat menjelaskan data secara sederhana, dan €
dapat menghasilkan penelitian lanjutan yang berguna.melalui
Apa
sebenarnya pengertian perkembangan itu? Istilah perkembangan (development) dan
pertumbuhan (growth) dalam pengertian biasa memang hampir sama. Keduanya dapat
diartikan adanya perubahan dari keadaan sesuatu kekeadaan yang lain. Namun pada
istilah pertumbuhan dititik beratkan pada perubahan fisik, sedangkan istilah
perkembangan digunakan kalau lebih menekankan pada perubahan psikis.
Sebagaimana
Monks dkk. menuliskan istilah pertumbuhan khusus dimaksudkan bagi pertumbuhan
dalam ukuran-ukuran badan dan fungsi fisik yang murni, sedangkan istilah
perkembangan lebih dapat mencerminkan sifat-sifat yang khas mengenai gejala
psikologik yang nampak.
Dan tidak dapat disangkal bahwasannya pertumbuhan fisik mempengaruhi perkembangan
psikis, karena keduanya memang tidak dapat dipisahkan.
Dalam
penjelasan mengenai teori perkembangan terdapat perbedaan di dalam memahami apa
yang termasuk dalam perkembangan dan mengenai cara perkembangan berlangsung.
Namun terdapat beberapa prinsip umum yang didukung hampir semua ahli, yaitu :
a.
Manusia berkembang dalam
tingkat yang berbeda
Dalam kelas anda akan memiliki seluruh benangan contoh mengenai tingkat
perkembangan yang berbeda. Beberapa siswa akan lebih besar, terkoordinasi lebih
baik, atau lebih dewasa dibannding dengan yabg lainnya.
b.
Perkembangan relatif runtut
Orang cenderung mengembangkan kemampuan
tertentu sebelum kemampuan yang lain.
c.
Perkembangan berjalan secara gradual
Sangat jarang perubahan terjadi setiap hari. Jadi di dalam perkembangan
manusia membutuhkan waktu, dan perkembangan itu berjalan relatif sangat lambat
dan tidak setiap hari berlangsung.
B. TEORI
PSIKOANALISIS
Menurut
teori psikoanalisis (psychoanalytic
theory), proses perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari
atau unconscious (di luar kesadaran) dan sangat diwarnai oleh emosi. Para ahli
teori psikoanalisis menekankan bahwa perilaku hanyalah merupakan karakteristik
dipermukaan. Pemahaman sepenuhnya mengenai perkembangan hanya dapat dicapai
melalui analisis terhadap makna-makna simbolis dari perilaku serta menelaah
pikiran yang lebih dalam. Ahli teori psikoanalisis juga menekankan bahwa
pengalaman di masa awal dengan orang tua memiliki pengaruh yang luas terhadap
perkembangan. Karakteristik-karakteristik ini disoroti dalam teori
psikoanalisis utama, yaitu oleh Sigmund Freud.
1. Teori
Freud
Freud (1856-1939) mengembangkan
teori psikoanalisisnya berdasarkan pengalamannya dalam menangani kehidupan
mental pasien-pasiennya. Sebagai seorang dokter yang mengambil spesialis di
bidang neurologi, Freud meluangkan sebagian besar masa hidupnya di Wina.
Menjelang akhir karirnya, Freud pindah ke London untuk melarikan diri dari
rezim Nazi yang anti-Yahudi.
a. Struktur kepribadian
Freud (1917) menyatakan bahwa kepribadian memiliki
tiga struktur, yaitu: id, ego dan superego. Id
terdiri dari insting, yang merupakan persendian energy psikis individu.
Dalam pandangan Freud, id sepenuhnya tidak disadari; id tidak memiliki kontak
dengan realitas. Ketika anak-anak mengalami berbagai tuntutan dan pembatasan
realitas, muncul sebuah struktur baru dari kepribadian ego, yang menangani tuntutan realitas. Ego disebut juga “cabang
eksekutif” dari kepribadian karena ego membuat keputusan rasional.
Id dan ego tidak mempertimbangkan moralitas, keduanya
tidak mempertimbangkan apakah sesuatu itu benar atau salah. Superego sering
kali kita juluki sebagai “hati nurani”. Anda mungkin mulai merasakan bahwa id
dan superego membuat kehidupan menjadi lebih sukar bagi ego. Ego anda mungkin
berkata, “saya hanya kadang-kadang melakukan hubungan seks dan disertai dengan
upaya pencegahan kehamilan karena saya tidak ingin memiliki seorang anak yang
dapat mengganggu perkembangan karir saya.” Meskipun demikian, id anda
mengatakan, “saya ingin dipuaskan; seks itu menyenangkan.” Superego anda juga
mengatakan, “saya merasa bersalah apanila melakukan hubungan seks.”
Menurut Freud kepribadian dapat diumpamakan sebagai
sebuah gunung es. Sebagian besar kepribadian kita terletak di bawah tingkat
kesadaran kita, seperti halnya sebagian besar dari sebuah gunung es itu
terletak di bawah permukaan air.
b. Tahap-tahap Perkembangan
Ketika Freud mendengarkan, menggali dan menganalisis
pasien-pasiennya, ia menjadi yakin bahwa masalah mereka bersumber dari
pengalaman-pengalaman di masa awal kehidupan. Menurut Freud, manusia akan
melalui lima tahap perkembangan psikoseksual dan di setiap tahap perkembangan
individu memperoleh kenikmatan di suatu bagian tubuh tertentu.
·
Tahap oral
(oral stage). Tahap oral adalah tahap perkembangan Freudian yang
pertama, yang berlangsung selama 18 bulan pertama dari kehidupan, dimana
kenikmatan bayi dipusatkan di daerah mulut. Mengunyah, mengisap, dan menggigit
menjadi sumber kepuasan yang utama. Aksi-aksi ini dapat meredakan ketegangan
pada bayi.
·
Tahap anal
(anal stage). Tahap anal adalah tahap perkembangan Freudian yang
kedua, yang berlangsung antara usia 1 setengah tahun hingga 3 tahun, di mana
kenikmatan terbesar diperoleh anak di daerah anus atau di fungsi pengeluaran
yang terhubung dengan anus. Menurut Freud, latihan otot anal dapat meredakan
ketenangan.
·
Tahap falik
(Phallic stage). Tahap falik adalah tahap perkembangan Freudian yang
ketiga, yang berlangsung antara usia 3 tahun hingga 6 tahun; nama tersebut
berasal dari kata Latin Phallus, yang berarti “penis.” Selama tahap falik,
kenikmatan dipusatkan di daerah genital, di mana ini terjadi ketika anak
menemukan bahwa manipulasi diri itu menyenangkan.
menurut Freud, secara khusus tahap falik adalah tahap
perkembangan kepribadian karena di periode inilah muncul kompleks Oedipus. Nama
ini berasal dari mitologi Yunani, di mana Oedipus, anak laki-laki dari Raja
Thebes, tanpa disengaja membunuh ayahnya dan menikahi ibunya. Meurut teori
Freud, kompleks Oedipus (Oedipus complex) adalah hasrat yang kuat
dari seorang anak kecil untuk menggantikan kedudukan orang tua yang berjenis
kelamin sama dan menikmati afeksi yang diperoleh dari orang tua yang berjenis
kelamin berbeda. Konsep Freud mengenai kompleks Oedipus ini dikritik oleh
sejumlah psikoanalisis dan penulis.
Bagaimana kompleks Oedipus ini diselesaikan? Sekitar
usia 5 hingga 6 tahun, anak-anak mengetahui bahwa orang tua mereka yang
berjenis kelamin sama itu menghukumnya karena memiliki harapan inses. Untuk
meredakan konflik antara ketakutan dan hasrat, anak beridentifikasi dengan
orang tua yang berjenis kelamin sama dan berjuan agar dapat menyeru[ainya.
Menurut Freud, apabila konflik ini tidak terselesaikan, individu akan
terfiksasi pada tahap falik.
·
Tahap laten
(latency stage). Tahap laten adalah tahap perkembangan Freudian yang
keempat, yang berlangsung antara usia 6 tahun hingga pubertas; anak menekan
semua minat dalam hal seksualitas serta mengembangkan keterampilan sosial dan
intelektual.aktivitas ini dapat menyalurkan sebagian besar energy anak ke dalam
bidang-bidang kehidupan emosional yang aman dan dapat membantu anak untuk
melupakan konflik yang sangat mengganggu di tahap falik.
·
Tahap
genital (genital stage). Tahap genital adalah tahap perkembangan Freudian yang
kelima dan terkahir, yang berlansung sejak masa remaja hingga ke masa
selanjutnya. Tahap genital adalah masa dari kebangkitan seksual; kini sumber
kenikmatan seksual terletak di luar keluarga. Menurut Freud, konflik-konflik
dengan orang tua yang tidak terselesaikan akan muncul kembali di masa remaja.
Apabila konflik-konflik ini terselesaikan, individu akan mampu mengembangkan
relasi cinta yang matang dan berfungsi secara mandiri sebagai seorang dewasa.
c. Revisi
terhadap teori Freud
teori Freud
telah mengalami revisi yang penting dari sejumlah ahli teori psikoanalisis.
Dibandingkan dengan Freud, sebagian besar ahli teori psikoanalisis kontenporer
kurang menekankan peranan insting seksual namun lebih menekankan pada
pengalaman budaya sebagai determina-determinan dari perkembangan. Meskipun
pikiran-pikiran yang tidak disadari masih merupakan suatu tema yang sentral,
sebagian besar psikoanalisis kontenporer menyatakan bahwa pikiran yang disadari
memainkan peranan yang lebih besar dibandingkan yang digambarkan oleh Freud.
Kaum feminis juga mengajukan kritik terhadap teori Freud. Selanjutnya, kita
akan menguraikan gagasan –gagasan dari tokoh yang merevisi gagasan-gagasan
Freud yaitu Erik Erikson.
2. Teori
Erikson
Erik Erikson
mengakui kontribusi Freud tetapi percaya bahwa Freud salah menilai beberapa
dimensi penting dari perkembangan manusia. Erikson mengatakan bahwa kita
berkembang dalam tahap psikososial,
daripada dalam tahap psikoseksual.
Bagi Freud, motivasi utama perilaku manusia bersifat seksual secara alami, bagi
Erikson motivasi utama manusia bersifat sosial dan mencerminkan suatu keinginan
untuk berhubungan dengan orang lain. Erikson menekankan perubahan perkembangan
sepanjang kehidupan manusia, sedangkan Freud menyatakan bahwa kepribadian dasar
kita terbentuk pada lima tahun pertama kehidupan.
Dalam teori
Erikson, delapan tahap perkembangan berkembang sepanjang kehidupan. Tiap tahap
terdiri dari tugas perkembangan yang unik yang menghadapkan seseorang pada suatu
krisis yang harus dipecahkan menurut Erikson, krisis ini bukanlah musibah
melainkan titik balik meningkatnya kelemahan dan kemampuan. Semakin berhasil
seseorang menyelesaikan krisis yang dihadapi, akan semakin sehat
perkembangannya. Berikut delapan tahap perkembangan menurut Erikson:
1. Kepercayaan versus ketidakpercayaan (trust versus mistrust) adalah tahap psikososial Erikson yang pertama, yang dialami pada tahun
pertama kehidupan. Rasa percaya melibatkan rasa nyaman secara fisik dan tidak
ada rasa takut atau kecemasan akan masa depan. Rasa percaa yang dirasakan bayi
akan menjadi fondasi kepercayaan sepanjang hidup bahwa dunia kan menjadi tempat
yang abik dan menyenangkan untuk ditinggali.
2. otonomi versus malu dan ragu-ragu (autonomy
versus doubt and shame) adalah tahap perkembangan Erikson yang kedua. Tahap
ini terjadi pada masa bayi dan masa kanak-kanak awal (1-3 tahun). Setelah
mendapatkan rasa percaya pengasuh, bayi mulai mengetahui bahwa perilaku mereka
adalah milik mereka sendiri. Mereka mulai menyatakan kemandirian mereka, atau
disebut otonomi. Mereka menyadari keinginan mereka. Jika anak terlalu dibatasi
atau dihukum dengan keras, mereka mungkin akan memunculkan rasa malu atau
ragu-ragu.
3. inisiatif versus rasa bersalah (initiative
versus guilt), tahap perkembangan Erikson yang ketiga, terjadi selam tahun
prasekolah. Begitu anak prasekolah memasuki duia sosial yang lebih luas, mereka
menghadapi lebih banyak tantangan daripada ketika mereka bayi. Perilaku aktif
dan bertujuan diperlukan untuk
menghadapi tantangan ini. Anak diminta untuk memikirkan tanggung jawab terhadap
tubuh, perilaku, mainan, dan hewan peliharaan mereka. Mengembangkan rasa
tanggung jawab meningkatkan inisiatif. Meskipun demikian, rasa bersalah yang tidak
nyaman dapat muncul, jika anak tidak bertanggung jawab dan dibuat merasa sangat
cemas. Erikson memiliki pandangan positif terhadap tahap ini. Ia percaya bahwa
sebagian besar rasa bersalah dengan cepat digantikan oleh rasa ingin
berprestasi.
4. Kerja keras versus rasa inferior (industry
versus inferiority) adalah tahap perkembangan Erikson yang keempat, terjadi
disekitar tahun sekolah dasar. Inisiatif anak membawa mereka berhubungan dengan
banyak pengalaman baru. Saat mereka berpindah ke masa kanak-kanak tengah dan
akhir, mereka mengarahkan energy mereka menuju penguasaan pengetahuan dan
keterampilan intelektual. Di waktu yang sama pula anak menjadi lebih antusias
mengenai belajar dibandingkan dengan akhir periode kanak-kanak awal yang penuh
imajinasi. Kemungkinana lain dalam tahun sekolah dasar adalah bahwa anak dapat
memunculkan rasa inferior merasa tidak kompeten dan tidak produktif. Erikson
percaya bahwa guru memiliki tanggung jawab khusus bagi perkembangan keaktifan
anak. Guru harus “dengan lembut tetapi tegas mengajak anak ke dalam petualangan
menemukan bahwa seseorang dapat belajar mencapai sesuatu yang tidak pernah
terbayangkan sebelumnya”
5. Identitas versus kebingungan identitas (identity versusu identity confusion) adalah tahap perkembangan
Erikson yang kelima, yang dialami seseorang selam masa remaja. Pada masa ini,
individu dihadapkan pada penemuan diri, tentang siapa diri mereka sebenarnya,
dan kemana mereka akan melangakah dalam hidup ini. Remaja dihadapkan terhadap
banyak peran baru dan status kedewasaan, pekerjaan dan cinta, misalnya. Orang
tua perlu mengizinkan remaja untuk menjelajahi peran-peran tersebut dan jalan
yang berbeda di setiap peran. Jika remaja menjelajahi peran tersebut dengan
cara yang baik, dan sampai pada jalan positif akan tercapai. Jika suatu
identitas dipaksakan pada remaja oleh orang tua, jika remaja tidak cukup
menjelajahi banyak peran, dan jika masa depan yang positif belum jelas, maka
terjadilah kebingungan identitas.
6. keintiman versus isolasi (intimacy
versus isolation) merupakan tahap perkembangan Erikson yang keenam, yang
dialami seseorang selama masa dewasa awal. pada masa ini, individu menghadapi
tugas perkembangan yaitu membentuk hubungan akrab dengan orang lain. Erikson
menggambarkan keintiman sebagai menemukan diri dan sekaligus kehilangan diri
dalam diri orang lain. Jika para dewasa muda membentuk persahabatan yang sehat
dan hubungan akrab dengan orang lain, keintiman akan tercapai; jika tidak,
akibatnya adalah isolasi diri.
7. Generativitas versus stagnasi merupakan tahap perkembangan Erikson
yang ketujuh, yang dialami seseorang pada masa dewasa tengah. Pada tahap ini,
kepedulian utama adalah membantu generasi yang lebih muda dalam mengembangkan
dan mengarahkan kehidupan menjadi berguna, ini yang disebut Erikson sebagai
generativitas. Perasaan bahwa dirinya tidak berbuat apa-apa untuk membantu
generasi menadapatkan stagnasi.
8. Integritas versusu keputusasaan
(integrity versusu despair) merupakan
tahap perkembanagan delapan dan terakhir dai Erikson, yang dialami seseorang
pada masa dewasa akhir. Dalam tahap ini, seseorang bercermin pada masa lalu dan
menyimpulkan bahwa ia telah menjalani hidup dengan baik. Dengan banyak cara,
orang berusia lanjut dapat mengembangkan pandangan positif pada tahap-tahap
perkembangan sebelumnya.jadi demikan, kilasan retrospektifnya akan memunculkan
gamabr kehidupan yang dimanfaatkan dengan baik, dan orang tersebut akan
merasakan kepuasan, integritas dapat dicapai. Jika orang yang berusia lanjut
membentuk setiap tahap perkembangan sebelumnya secara negatif, kilasan
retrospektifnya akan memunculkan keraguan atau kegelapan, keputusasaan yang
dimaksudkan oleh Erikson.
Erikson
tidak percaya bahwa solusi yang baik bagi krisis tahapan seluruhnya selalu
positif. Beberpa kontak tau komitmen dengan sisi negatif krisis tersebut kadang
tidak dapat dihindari. Anda tidak dapat mempercayaisemua orang dibawah situasi
apapun dan kemudian bertahan hidup, misalnya. Di sisi lain, dalam solusi sehat
terhadap krisis tahapan, jawaban positif mendominasi. Kita akan mendiskusikan
teori Erikson lagi dalam sejumlah kejadian pada bab tentang perkembanga
sosial-emosi.
3. Evaluasi
Teori-teori Psikoanalitis
Teori-teori
psikoanalisis berfokus pada proses sosial-emosi dari perkembangan; teori
tersebut memiliki sedikit informasi untuk diceritakan mengenai proses biologis
atau kognitif.
Kontribusi
teori psikoanalisis meliputi sebagai berikut:
·
Teori tersebut menggarisbawahi peran pengalaman awal
dalam perkembangan.
·
Hubungan keluarga diteliti sebagai aspek pusat
perkembangan.
·
Teori psikoanalisis menggunakan pendekatan
perkembangan pada kepribadian dan memberikan kerangka kerja perkembangan untuk
memahaminya.
·
Teori Freud mendukung ide bahwa pikiran tidak
seluruhnya sadar dan mengarahkan perhatian pada aspek tidak sadar dari pikiran.
·
Erikson menunjukkan bahwa perubahan terjadi di masa
dewasa seperti juga di masa kanak-kanak.
Kritik bagi
teori psikoanalisis adalah sebagai berikut :
·
Konsep utama teori psikoanalisis sulit diuji secara
ilmiah.
·
Banyak data yang digunakan untuk mendukung teori
psikoanalisis berasal dari rekonstruksi individu terhadap masa lalunya, kadang
masa lalu yang telah lama sekali lewat, dan ketepatannya tidak diketahui.
·
Dasar seksual bagi perkembangan dimaknai secara
berlebihan (terutama dalam teori Freud)
·
Pikiran tidak sadar memiliki status yang berlebihan
dalam mempengaruhi perkembangan.
·
Teori psikoanalisis (terutama teori Freud) memberikan
citra negatif pada manusia.
·
Teori psikoanalisis mengandung bias jender dan budaya.
Sebagai contoh penekanan seksual mencirikan masyarakat Wina pada akhir abad
ke-19 dan awal abad ke-20 (di mana Freud tinggal) dan hal ini mungkin memberi
kontribusi terhadap penekanan berlebihan pada motivasi seksual dalam teorinya.
Kritikus feminis menekankan bahwa Freud meremehkan pentingnya hubungan dan
emosi positif dalam perkembangan wanita.
C. TEORI KOGNITIF
Jika teori psikoanalisis menekankan
pentingnya ketidaksadaran, teori-teori kognitif menekankan pikiran-pikiran yang
disadari. Tiga teori kognitif yang paling penting adalah teori perkembangan
kognitif menurut piaget, teori kognitif sosial-budaya menurut Vygotsky, serta
teori pemrosesan-informasi.
1. Teori Kognitif
Piaget
Seorang psikolog terkenal berkebangsaan Swiss, Jean Piaget (1896-1980)
mengajukan sebuah teori penting mengenai perkembangan kognitif. Teori Piaget (piaget’s theory) menyatakan bahwa
individu secara aktif membangun pemahaman mengenai dunia dan melalui empat
tahap perkembangan kognitif.
Dua proses mendasari perkembangan tersebut; organisasi dan adaptasi. Untuk
memahami dunia, kita mengorganisasikan pengalaman-pengalaman kita. Contohnya,
kita memisahkan pikiran penting dari yang kurang penting. Kita menghubungkan
satu pikiran dengan yang lain. Dengan mengorganisasikan pengamatan dan
pengalaman kita, kita menyesuaikan (adaptasi) pemikiran kita dengan ide-ide
baru.
Piaget (1954) percaya bahwa kita beradaptasi dalam dua cara: asimilasi
dan akomodasi. Asimilasi terjadi saat anak menggabungkan informasi ke dalam
pengetahuan yang telah mereka miliki. Akomodasi terjadi bila anak menyesuaikan
pengetahuan mereka agar cocok dengan informasi dan pengalaman baru. Misalnya
anak perempuan 8 tahun yang diberi sebuah palu dan paku untuk menggantungkan
sebuah lukisan di dinding. Ia belum pernah menggunakan palu, tetapi dari
pengalaman dan pengamatan ia mengetahui bahwa palu adalah benda yang harus
dipegang, diayun gagangnya untuk memukul paku, dan bahwa biasanya dipukulkan
beberapa kali. Tahu akan hal ini, ia menyesuaikan tugas barunya ke dalam
pengetahuan yang telah ia miliki (asimilasi). Meskipun demikian, palu adalah
benda berat, maka ia memegangnya terlalu keatas. Ia mengayun terlalu keras dan
pakunya bengkok, maka ia menyesuaikan tekanan pukulannya. Penyesuaian ini
menunjukkan kemampuannya mengubah pengetahuannya (akomodasi).
Piaget juga percaya bahwa kita melalui empat tahap dalam memahami dunia.
Tiap tahap berhubungan dengan usia dan terdiri dari cara berpikir yang berbeda.
Cara pemahaman dunia yang berbeda
inilah yang membuat suatu tahap lebih maju dari tahap yang lain; mengetahui lebih banyak informasi tidak menjadikan cara
berpikir anak lebih maju dalam pandangan Piaget.ini adalah yang dimaksus Piaget
ketika ia mengatakan kognisi anak berbeda secara kualitatif dalam satu tahap dibandingkan dengan tahap yang lain.
Berikut empat tahap perkembangan menurut Piaget:
·
Tahap
sensorimotor, yang berlangsung mulai dari lahir hingga usia 2
tahun, merupakan tahap pertama perkembangan Piaget. Dalam tahap ini, anak
membangun pemahaman mengenai dunia ini dengan mengkoordinasikan pengalaman
sensoris (seperti melihat dan mendengar) dengan tindakan fisik dan motorik,
karena itulah disebut sensorimotor.
Pada awal tahap ini, bayi yang baru lahir memiliki lebih dari sekedar pola-pola
refleksif untuk dapat melakukan sesuatu. Pada akhir tahap ini, anak umur 2
tahun memiliki pola sensorimotor kompleks dan mulai menggunakan symbol-simbol
sederhana.
·
Tahap
praoperasional, yang
berlangsung sekitar usia 2 hingga 7 tahun, adalah tahap perkembangan kedua
Piaget. Pada tahap ini, anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata, gambar
dan lukisan. Meskipun de,ikian, meurut Piaget, anak prasekolah masih kurang
mampu melakukan operasi, istilah
Piaget untuk tindakan mental apa yang sebelumnya hanya dapat dilakukan secara
fisik.
·
Tahap
operasional konkret, yang berlangsung mulai dari sekitar 7 hingga 11
tahun, merupakan tahap perkembangan ketiga Piaget. Dalam tahap ini, anak dapat
melakukan operasi, dan penalaran logis menggantikan pikiran intuitif selama
penalaran dapat diterapkan pada contoh khusus dan konkret. Contohnya, pemikir
operasional konkret tidak dapat membayangkan langkah-langkah yang diperlukan
untuk menyelesaikan persoalan soal persamaan aljabar, yang terlalu abstrak bagi
pemikira tahap perkembangan ini.
·
Tahap
operasional formal, yang muncul antara umur 11 hingga 15 tahun, merupakan
tahap perkembangan Piaget yang keempat dan terakhir. Pada tahap ini, individu
lebih melampaui pengalaman konkret dan berpikir dalam istilah yang abstrak dan
lebih logis. Sebagai bagian dari berpikir lebih abstrak, remaja menciptakan
bayangan situasi ideal. Mereka dapat berpikir mengenai bagaiamana orang tua
ideal ini. Mereka mulai mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan masa depan dan
takjub mereka dapat menjadi apa saja. Dalam memecahlan masalah, pemikir
operasional formal lebih sistematis, mengembangkan hipotesis mengenai mengapa
sesuatu terjadi dengan cara tertentu, kemudian menguji hipotesis ini dengan
cara deduktif.
2. Teori
Kognitif Sosial-Budaya Vygotsky
Seperti Piaget, ahli perkembangan
Rusia, Lev Vygotsky (1896-1934) juga percaya bahwa anak secara aktif
menciptakan pengetahuan mereka sendiri. Meskipun demikian, Vygotsky memberikan
peran yang lebih penting pada interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan
kognitif lebih dari yang dilakukan Piaget. Teori Vvygotsky adalah teori
kognitif yang mengutamakan bagaiaman interaksi sosial dan budaya menuntun
perkmbangan kognitif.
Vygotsky
melukiskan perkembangan sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari aktivitas
sosial dan budaya. Ia berpendapat bahwa perkembangan memori, atensi dan
penalaran, mencakup kegiatan belajar untuk menggunakan temuan-temuan dari
masyarakat, seperti bahasa, system matematika, dan strategi memori. Dalam suatu
budaya, hal ini dapat meliputi kegiatan belajar berhitung dengan bantuan komputer.
Di hari lainnya, individu juga dapat belajar berhitung dengan menggunakan
tangannya atau manik-manik.
Teori
Vygotsky telah cukup banyak merangsang minat terhadap pandangan yang menyatakan
bahwa pengetahuan itu kolaboratif.
Dalam pandangan ini, pengetahuan tidak disimpulan dari dalam individu namun
dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan berbagai objek di dalam budaya
tersebut, seperti buku-buku. Hal ini mengimplikasikan bahwa pengetahuan paling
baik dikembangkan melalui interaksi dengan orang lain dalam aktivitas
kooperatif. Secara khusus, ia berpendapat bahwa interkasi anak-anak dengan
orang dewasa dan kawan-kawan sebaya yang lebih terampil tidak dapat dipisahkan
untuk meningkatkan perkembangan kognitif mereka. Melalui interaksi ini, anggota
yang kurang terampil dari suatu budaya belajar untuk menggunakan perangkat yang
dapat membantu mereka untuk beradaptasi dan berhasil.
3. Teori Pemrosesan-Informasi
Teori
pemrosesan-informasi (information-processing
theory) menekankan bahwa individu memanipulasi, memonitori, dan meyusun
strategi terhadap informasi-informasi yang ditemui. Dalam teori ini proses
memori dan berpikir menjadi tema sentral. Menurut teori ini, secara bertahap
remaja mengembangkan kapasitas yang lebih besar untuk memproses informasi, di
mana hal ini memungkinakan mereka untukmemperoleh pengetahuan dan keterampilan
yang kompleks.tidak seperti teori perkembangan kognitif Piaget, teori
pemrosesan-informasi tidak mendiskripsikan perkembangan dalam tahapan-tahapan.
Meskipun
terdapat banyak faktor yang merangsang pertumbuhan teori pemrosesan-informasi
ini, tidak ada yang lebih penting dibandingkan kemajuan di dalam dunia komputer,
yang mendemonstrasikan bahwa sebuah mesin dapat melakukan operasi logis. Para
psikolog mulai bertanya-tanya apakah operasi logis yang dilakukan oleh komputer
dapat memberikan informasi tentang cara kerja pikiran manusia. Untuk
menjelaskan hubungan antara kognisi atau pikiran dengan otak, mereka membuat
analogi anatar computer dengan otak, membandingkan otak manusia dengan
perangkat lunak computer. Meskipun perangkat keras dan perangkat lunak bukanlah
analogi yang sempurnah untuk otak dan aktivitas kognitif, perbandingan semacam
itu berkontribusi bagi gagasan kita mengenai pikiran sebagai sebuah system
pemrosesan informasi.
Robert
Siegler (1998), seorang ahli terkemuka di bidang pemrosesan-informasi,
menyatakan bahwa kegiatan berpikir merupakan suatu bentuk
permrosesan-informasi. Menurut Siegler, ketika individu menangkap, menulisakan
sandi (encoding), menampilkan,
menyimpan, dan mengeluarkan kembali informasi, mereka sebenarnya sedang
berpikir. Siegler menekankan bahwa aspek penting dari perkembangan adalah
memperlajari strategi-strategi yang baik untuk memproses informasi. Sebagai contoh,
menjadi pembaca yang lebih baik itu
meliputi belajar memonitoring tema-tema penting dari materi-materi yang dibaca.
4. Evaluasi
Terhadap Teori-Teori Kognitf
Kontribusi
dari teori-teori kognitif meliputi sebagai berikut:
·
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang
positif mengenai perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari.
·
Teori-teori kognitif (khususnya teori Piaget dan
Vigotsky) menekankan pada usaha aktif individu untuk menyusun pemahamannya.
·
Teori Piaget dan Vigotsky menekankan pentingnya kajian
terhadap perubahan perkembangan dalam pemikiran.
·
Teori pemrosesan-informasi sering kali menawarkan
deskripsi yang terperinci mengenai proses-proses kognitif.
Kritik-kritik
yang dilontarkan terhadap teori-teori kognitif adalah sebagai berikut:
·
Perkembangan kognitif tidak berlangsung dalam
tahapan-tahapan seperti dikemukakan dalam teori Piaget.
·
Teori-teori kognitif tidak memberi perhatian yang
memadai terhadap variasi individual dalam perkembangan kognitif.
·
Teori pemrosesan-informasi tidak menyediakan deskripsi
mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi.
·
Para ahli teori psikoanalisis menyatakan bahwa
teori-teori kognitif kurang memberi perhatian pada pemikiran yang tidak
disadari
A. KESIMPULAN
Setelah kami
gali, kaji, dan paparkan maka kami dapat memberikan kesimpulan
bahwa :
·
Teori Psikoanalisis (psychoanalytic theory) manyatakan bahwa
perkembangan terutama berlangsung secara tidak disadari dan sangat diwarnai
oleh emosi. Perilaku hanyalah karakteristik di permukaan, dan kerja simbolik
dari pikiran harus dianalisis agar perilaku tersebut dapat dipahami. Menekankan
pengalaman awal dengan orang tua.
·
Teori-teori psikoanalisis berfokus pada proses
sosial-emosi dari perkembangan; teori tersebut memiliki sedikit informasi untuk
diceritakan mengenai proses biologis atau kognitif.
·
Kontribusi teori psikoanalisis meliputi sebagai berikut:
Teori tersebut menggarisbawahi peran pengalaman awal
dalam perkembangan, hubungan keluarga diteliti sebagai aspek pusat
perkembangan, teori psikoanalisis menggunakan pendekatan perkembangan pada
kepribadian dan memberikan kerangka kerja perkembangan untuk memahaminya, teori
Freud mendukung ide bahwa pikiran tidak seluruhnya sadar dan mengarahkan
perhatian pada aspek tidak sadar dari pikiran,
dan erikson menunjukkan bahwa perubahan terjadi di masa dewasa seperti
juga di masa kanak-kanak.
·
Kritik bagi teori psikoanalisis adalah sebagai berikut
:
Konsep utama teori psikoanalisis sulit diuji secara
ilmiah, banyak data yang digunakan untuk mendukung teori psikoanalisis berasal
dari rekonstruksi individu terhadap masa lalunya, kadang masa lalu yang telah lama
sekali lewat, dan ketepatannya tidak diketahui, dasar seksual bagi perkembangan
dimaknai secara berlebihan (terutama dalam teori Freud), pikiran tidak sadar
memiliki status yang berlebihan dalam mempengaruhi perkembangan, teori
psikoanalisis (terutama teori Freud) memberikan citra negatif pada manusia, dan
teori psikoanalisis mengandung bias jender dan budaya. Sebagai contoh penekanan
seksual mencirikan masyarakat Wina pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20
(di mana Freud tinggal) dan hal ini mungkin memberi kontribusi terhadap
penekanan berlebihan pada motivasi seksual dalam teorinya. Kritikus feminis
menekankan bahwa Freud meremehkan pentingnya hubungan dan emosi positif dalam
perkembangan wanita
·
Jika teori-teri psikoanalisis
menekankan pentingnya ketidaksadaran, teori-teori kognitif menekankan
pikiran-pikiran yang disadari.
·
Kontribusi dari teori-teori kognitif meliputi sebagai
berikut:
Teori-teori kognitif menyajikan suatu pandangan yang
positif mengenai perkembangan, menekankan pada pemikiran yang disadari,
teori-teori kognitif (khususnya teori Piaget dan Vigotsky) menekankan pada
usaha aktif individu untuk menyusun pemahamannya, teori Piaget dan Vigotsky
menekankan pentingnya kajian terhadap perubahan perkembangan dalam pemikiran,
dan teori pemrosesan-informasi sering kali menawarkan deskripsi yang terperinci
mengenai proses-proses kognitif.
·
Kritik-kritik yang dilontarkan terhadap teori-teori
kognitif adalah sebagai berikut:
Perkembangan kognitif tidak berlangsung dalam
tahapan-tahapan seperti dikemukakan dalam teori Piaget, teori-teori kognitif
tidak memberi perhatian yang memadai terhadap variasi individual dalam
perkembangan kognitif, teori pemrosesan-informasi tidak menyediakan deskripsi
mengenai perubahan perkembangan dalam kognisi, dan para ahli teori
psikoanalisis menyatakan bahwa teori-teori kognitif kurang memberi perhatian
pada pemikiran yang tidak disadari
B. SARAN
·
Untuk menerapkan teori sebaiknya harus melihat konteks
penerapanannya.
·
Saya mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun.
Santrock, John. W. 2007. Remaja. Erlangga : Jakarta
Santrock, John.W. 2007. Perkembangan Anak. Erlangga : Jakarta
Yusuf LN, Syamsu & Juantika Nurihsan. 2007. Teori Kepribadian. Rosda karya : Bandung
http://www.ayobukasaja.com/2012/06/teori-teori-psikologi-perkembangan.html